Fitness Tips : Tambah Kuat Tambah Berotot

Fitness Tips : Tambah Kuat Tambah Berotot
June 6, 2018 fitnessindonesia
berotot

Sering saya mendengar ketakutan seperti ini, “Coach kalau bebannya nambah terus, saya akan makin kuat terus, nanti lama-lama ototnya jadi membesar dong? Saya gak badan jadi gede-gede,” khususnya dari para wanita (termasuk klien-klien Fitness Indonesia). Tapi, apakah ketakutan ini memiliki dasar yang kuat dan benar? Apa benar semakin kuat kita otomatis kita akan semakin berotot atau otot kita akan membesar?

(Baca Juga : “Fitness Tips : Apa Benar Squat Bahaya Untuk Lutut?“)

Seringkali (sayangnya lebih sering dari yang seharusnya), “semakin kuat” serta merta diidentikkan dengan pertanda “pertumbuhan massa otot” dan memang, asosiasi semacam ini ada benarnya. “semakin kuat” bisa menjadi pertanda “pertumbuhan massa otot”. Namun, asosiasi keduanya bukanlah bersifat eksklusif. Singkatnya, “semakin kuat” tidak selalu berarti “massa otot meningkat”. Peningkatan massa otot (isitlahnya hypertrophy) jauh lebih kompleks dibandingkan hanya sekedar “semakin kuat” walau memang strength atau “semakin kuat” juga ambil peranan pada prosesnya.

Untuk mengilustrasikan bahwa hubungan antara “semakin kuat” dan “semakin berotot” tidaklah eksklusif dan pasti, Enoka, dalam laporan penelitiannya di tahun 2008, mengutip 8 mekanisme atau alasan neurologis yang memungkinkan kita bertambah kuat tanpa disertai dengan peningkatan massa otot (1). Berikut adalah ke-8 mekanisme tersebut:

1. Peningkatkan intensitas sinyal kontraksi dari sistem saraf pusat ke otot yang dilatih. Hal ini didemonstrasikan di penelitian melalui metode kontraksi imajiner, dimana subjek hanya membayangkan otot tertentu di tubuhnya kontraksi. Ditemukan bahwa subjek yang lebih kuat (tidak selalu lebih berotot) menghasilkan “sinyal kontraksi imajiner” yang lebih kuat.

2. Penurunan ko-aktifasi otot antagonis. Dengan berkurangnya hal tersebut, otot agonist yang sedang kita latih bisa berkontraksi dengan lebih efisien.

3. Peningkatan aktifasi otot agonist dan sinergis, yaitu otot yang mendukung kontraksi otot agonist yang sedang kita targetkan atau kita latih.

4. Peningkatan “coupling” antar sel saraf ruas tulang belakang sehingga sinyal kontraksi bisa disampaikan dari sistem saraf pusat ke otot dengan lebih efisien.

5. Peningkatan aktifasi otot secara umum, yang terlihat pada penelitian dengan menggunakan EMG (electromyography).

6. Peningkatan kesensitifan koneksi pada saraf motor sehingga dengan sinyal kontraksi yang sama kuatnya, saraf motor yang menggerakan otot bisa beroperasi dengan lebih efektif.

7. Peningkatan sinkronisasi pada motor unit sel otot sehingga sinyal kontraksi bisa diterjemahkan ke kontraksi otot sesungguhnya dengan lebih efisien.

8. Perubahan pada “decay rate” atau kecepatan penurunan sinyal ke sel saraf sehingga kehilangan intensitas sinyal ketika mengalir dari sistem saraf pusat ke sel otot berkurang.

Lebih lanjut lagi, hubungan antara “semakin kuat” dan “semakin berotot” juga dipengaruhi oleh sejarah latihan. Peningkatan strength atau “semakin kuat” tanpa pertumbuhan otot terjadi paling umum di saat-saat awal kita memulai latihan beban dengan serius, konsisten, dan tepat (2). Semakin tubuh kita efisien dan efektif dalam melakukan suatu gerakan latihan tertentu, yang berarti semakin sudah efektif dan efisiennya aspek neurologis tubuh kita dalam melakukan gerakan latihan tersebut, semakin tinggi kecenderungan peningkatan strength dibarengi dengan pertumbuhan otot.

Di sisi lain, Charles Poliquin pernah mengatakan ketika saya menghadiri seminarnya di Melbourne, Australia bahwa dibutuhkan kurang lebih 1000 repetisi dengan teknik tepat untuk meningkatkan keefisienan dan keefektifan tubuh dalam melakukan suatu gerakan tertentu sebanyak 1%. Jadi, akan dibutuhkan waktu yang sangat lama sebelum “semakin kuat” akan selalu berarti “semakin berotot”

Jika dilihat dari realitanya, apabila strength adalah satu-satunya faktor dalam peningkatan massa otot, maka dunia binaraga akan didominasi oleh para powerlifter secara powerlifter pada umumnya lebih kuat dari binaragawan. Kalau memang begitu, maka para binaragawan akan perlu berlatih seperti powerlifter untuk mengejar ketinggalan pertumbuhan massa otot mereka. Padahal, kita tahu kenyataannya tidaklah demikian. Powerlifter memang pada umumnya lebih kuat, tapi binaragawan cenderung memiliki perkembangan massa otot yang lebih maju.

Keduanya, powerlifter dan binaragawan memiliki tingkat kekuatan dan bentuk badan yang menakjubkan secara umum tapi perbedaan pada pola latihan mereka terjadi karena sebuah alasan. Salah satunya adalah bahwa strength gain tidak selalu berarti muscle gain.

PS: Agar anda tidak kelewatan tips dan info mengenai program latihan beban yang efektif dan efisien, pastikan anda subscribe ke newsletter Fitness Indonesia dengan mengisi nama dan email anda di kotak yang tersedia di sisi kanan layar komputer anda. Tak ketinggalan, dengan subscribe diri anda, anda mendapatkan kesempatan untuk menggunakan promosi-promosi eksklusif dari Fitness Indonesia khusus untuk para subscriber.

Untuk program latihan beban yang efektif, efisien, dan dijamin berhasil dalam membawa anda ke berat dan bentuk badan ideal anda, segera daftarkan diri anda ke salah satu program gym atau program online kami. Sementara untuk suplemen diet Pharmaceutical Grade merk #1 di USA, silahkan lihat katalog suplemen kami.

PPS: Artikel ini berguna untuk anda? Anda mempelajari info baru dari artikel ini? Jika iya, saya mohon agar anda share artikel ini di akun twitter atau facebook anda! Pastikan teman dan keluarga anda juga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan info baru dari artikel ini.

Salam,

Coach Tobias (@CoachTobiasIndo) – 0878-8410-3904/2A9F0CF0

Fitness Indonesia – “The Indonesia’s Only Fitness Service Provider with 30-Day Money Back Guarantee

“Fitness Indonesia – We Deliver Excellent Results with Commitment”

Referensi

(1) Enoka RM et al. Muscle Fatigue: What, hwy, and How it Influences Muscle Function. J Physiol, 2008.

(2) Selvanayagam VS et al. Early Neural Responses to Strength Training. J Appl Physiol, 1985.

(3) Staron RS et al. Skeletal Muscle Adaptations During Early Phase of Heavy-Resistance Training in Men and Women. J Appl Physiol, 1994.

Comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*